This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 16 April 2013

si KAMBING berwana HITAM


Masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan sekarang.

The future depends on what we do in the present.

Mahatma Gandhi

Bukankah kata-kata seperti itu sudah kita mahfumi. Namun, benarkah kita sudah menyadari benar maknanya? Atau kita masih sekadar membaca kata-kata bijak hanya untuk memanjakan pikiran kita 1 atau barang 2 menit saja lantas membiarkannya kotor lagi dengan berbagai pelik kehidupan yang sebenarnya hanyalah masalah "RASA"???

Yeah semua orang mau sukses. Semua orang mau kaya. Semua orang mau bahagia. Semua orang mau segala yang diingini terpenuhi. Semua orang ingin masah depan yang cerah. Lantas kenapa masih sedikit orang mengusahakan masa depannya??Jika hari ini kau masih saja berpangku tangan.
Jika hari ini waktumu masih tersisa lebih banyak dari waktu istirahat normal.
Jika hari ini waktumu hanya habis untuk memencet keyboard atau mengkilik-kilik tombol hapemu.BBM, WhatsAppan atau apalah namanya.
dan Jika hari ini pengeluaranmu selalu lebih banyak sari yang kau dapat... itu artinya kau belum sepenuhnya merancang masa depanmu dengan baik.

Benar! Masa depanmu adalah upayamu hari ini ini. Bukankah lebih baik kita berlari dan berlari untuk menikmati segelas jus jeruk yang sangat segar (Bisa kau bayangkan bagaimana segarnya jus jeruk biasa jika diteguk setelah kau berlari ribuan meter bukan?). Atttaaauuu kau juistru ingin menikmati segelas jus jeruk (yang pasti tak sesegar bila kau minum setelah berlarian) lantar baru mulai berlarii??

Jika hari ini tak ada yang kau upayakan, jangan berharap akan ada yang kau nikmati kelak. Dan akhirnya,, apabila datang masa di mana tak ada yang bisa dinikmati, kita mencari kambing berwarna hitam untuk disalah-salahkan. Dan ternyata kau cukup pintar dengan menyalahkan, karena sekeji apa pun kau menyalahkannya, si kambing tak akan pernah menampik ucapanmu. Sekarang tinggal pilih, kau akan mencari yang bisa kau lakukan sekarang atau kau mau mencari kambing berwarna hitam untuk MASA DEPANmu?

LUAR BIASA I

Kalau kamu bisa menjadi luar biasa, kenapa kau masih memilih menjadi biasa saja
Pertanyaan yang tak harus dijawab, karena aku memang tak membutuhkan jawaban dari mereka yang kutanyai. Namun, tak pernah bosannya aku bertanya seperti itu kepada orang-orang yang menyentuh hatiku. Orang yang ku cintai, sahabatku, murid-muridku.

Menjadi biasa itu banyak kembarannya. Menjadi biasa itu gampang dilupain. Menjadi biasa itu sama halnya dengan angin lalu.

Coba ingat,, siapa teman SD yang masih kau ingat nama dan tingkah polahnya? tentu kalau bukan yang paling pandai ya yang paling bodoh, jika bukan yang paling nakal ya yang paling alim, jika bukan yang paling cerewet ya yang paling pendiem. Mereka yang biasa-biasa aja? kemungkinannya kecil untuk kau masih mengingatnya.Yaaah mereka-mereka itu yang luar biasa. Mau nakal ya luar biasa nakal, mau cerewet ya luar biasa cerewet, mau pinter ya luar biasa pinter. Nah gampang bukan untuk tetap diinget? yupz,, hanya dengan menjadi luar biasa.Pilihan mau luar biasa baik atau luar biasa buruk itu pilihan.Ibaratnya, suatu saat nanti kalo kamu meninggal kamu berharap banyak yang menyayangkan --"Ihh kasihan ya si A,, padahal dia itu baik banget, ramah, nggak pelit lagi"-- atau kamu justru pengen banyak orang bersyukur atas kematianmu --"Syukur deh akhirnya si Z mampus. Ga rugi deh dunia kehilangan dia. Udah sukanya fitnah, jahatin orang lagi"... ???


Senin, 15 April 2013

BERMIMPILAH, ANAKKU!!!



Mereka adalah Berton dan Karnus. Dua anakku di Sekolah Dasar Inpres Detubelo. Sebuah sekolah di tanah Flores. Tatapan-tapan kosong mereka laksana tatapan kosong mereka terhadap kehidupan. Bagi mereka, hidup sekadar makan dan meninggalkan hari sekarang. Apa yang ada di hari depan tentu bukanlah urusan mereka. Biar Tuhan yang menentukan, mungkin itu yang ada dibenak mereka.
Teringat pertama kali aku masuk dan menginjakan kaki di sekolah ini. Suatu waktu aku terpaksa mengajar kelas 3, 4, 5, dan 6 yang dikumpulkan dalam satu ruangan akibat hanya ada dua guru yang datang pada awal masuk liburan semester. Butuh tenaga besar dan suara yang lantang untuk mengatasi kelas yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Apalagi anak-anak Flores terkenal dengan suara “lantangnya”. Satu keuntungan besar bagiku waktu itu, sebagai orang baru tentu aku tak perlu susah-susah untuk mendapatkan perhatian mereka. Dalam hitungan menit, kumanfaatkan keterkejutan mereka akan kedatanganku menjadi keseriusan untuk mendengar. Awal pertemuan ini kugunakan hanya untuk bermain dan berkenalan dengan mereka. Berkenalan dari hati ke hati. Cukup sulit bagiku untuk menghapal nama-nama muridku yang semua tampak asing di telinga apalagi di lidah untuk diucapkan. Maria Helena Owa, Jeje RAta, Marianus Dado. Nama-nama itu berulang kali ku sebut dengan terbata. Saat anak-anakku menyadari bahwa guru barunya ini susah sekali mencocokan wajah mereka dengan label nama mereka, salah seorang siswa menyeletuk “Ibu, kami sudah hapal nama Ibu, kami juga sudah menyebutkan nama kami berulang-ulang, sekarang coba Ibu panggil nama kami satu persatu”. Mati saya! Pikir saya waktu itu. Jangankan memanggil nama mereka semua satu per satu. Menyebutkan 3 nama yang ada di kelas saja waktu itu saya salah-salah.
Nah, kembali pada pandangan anak-anakku tentang kehidupan. Dalam perkenalan pertama itu, aku menanyai mereka tentang cita-cita mereka. Alangkah aku dibuat terdiam ketika seorang siswa bertanya, “Ibu, cita-cita itu apa?”. Dengan sederhana ku katakan saja bahwa cita-cita sama halnya mau menjadi apa engkau dewasa kelak. Masih dengan bingung, mereka menulis cita-cita mereka pada selembar kertas. Tulisan mereka sangat sederhana dan lugu. Ada beberapa siswa menulis ingin menjadi guru, tetapi banyak dari mereka menulis akan menjadi petani atau tukang ojek. Ya,, dua profesi yang menjadi primadona di kampung tempatku tinggal.
Tulisan-tulisan anak-anakku menjadi PR yang sangat besar untukku. Kususun kertas-kertas cita-cita mereka di atas tegel kamar. Ku baca dan ku resapi satu per satu. Kebanyakan dari mereka tidak punya cita-cita. Kebanyakan dari mereka tidak punya mimpi. Mereka hanya mau menjadi seperti orang tua mereka. Mereka ibarat katak dalam tempurung. Hal yang mereka lihat sebatas apa yang terjangkau mata. Bagaimana mereka akan bercita-cita jika sebelum lulus sekolah mereka sudah dipesan orang tua mereka untuk menjadi penerus pengurus kebun kakao dan kemiri orang tua mereka. Mereka umumnya takut bermimpi. Bagi kebanyakan masyarakat di sini, pendidikan itu mahal dan tidak penting. Buat apa sekolah tinggi, toh pada akhirnya mereka belum tentu menjadi pegawai.
Keesokan harinya, guru yang masuk masih bisa dihitung dengan jari. Sekali lagi, aku terpaksa menggabung kelas 4, 5, dan 6 menjadi satu ruangan. Hari itu, aku akan membuka mata mereka. Kelas hari itu ku beri nama Lilin Harapan. Mengapa demikian? Aku ingin mereka mempunyai cita-cita yang tinggi. Mempunyai pengharapan akan kehidupan yang lebih baik. Dan mengapa harus lilin? Lilin.. walaupun tidak terang, benda ini mampu memberi cahaya pada kegelapan. Begitu pula pengharapanku pada mereka. Di segala keterbatasan mereka, aku ingin mereka menjadi penerang bagi lingkungan mereka.
Waktu itu, kukenalkan mereka pada berbagai profesi. Guru, polisi, tentara, bidan, kepala desa, camat, pilot, juragan kakao (red. kampungku kaya akan kakao), dan berbagai profesi lain. Kuceritakan keadaan kota yang banyak toko serba ada dan berbagai makanan enak. Kugambarkan bagaimana enaknya makan es krim. Tidak lupa pula kujelaskan apa saja yang ada di Jawa. Saat mereka tertegun, semakin semangat aku membual. Dengan memejamkan mata seolah menikmati es krim, kugambarkan bagaimana enaknya menikmati jenis makanan ini. Lalu, satu per satu pertanyaan muncul. Kalian mau tahu bagaimana enaknya menjilat es krim yang bentuknya kaya Tugu Monas yang ada di Jakarta? Kamu  mau tahu rasanya belanja tanpa berpanas-panas? Kamu mau naik mobil mewah? Tidak bosankah kalian naik bis kayu (red. Sejenis truk yang dijadikan angkutan penumpang)? Nah jawaban-jawaban tersebut ku gunakan untuk menggiring mereka bermimpi. Mimpi untuk menjadi lebih baik. Tidak sekadar hanya menjadi penerus orang tua mereka yang hanya jadi petani atau tukang ojek.
Lagi, ku minta mereka menulis mimpi mereka. Kali ini tulisan mereka beragam. Ada yang mau menjadi guru, polisi, tentara, bahkan ada yang ingin menjadi Babo, artis lokal yang sempat masuk pada penyisihan ajang kompetensi pencarian bakat Indonesia Idol. Kali ini aku tersenyum puas. Anak-anakku sudah berani bermimpi. Semenjak menyalakan mimpi-mimpi mereka, kali ini hingga kepulanganku nanti tugasku adalah membuat mimpi-mimpi mereka tetap menyala. Membuat mereka mau mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
Sebenarnya, masyarakat di sini bukanlah masyarakat miskin yang tidak bisa mengupayakan uang untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Umumnya, mereka mempunyai berhektar-hektar kebun dengan berbagai hasilnya seperti kemiri, kakao, kopra. Akan tetapi, uang mereka habis untuk wurumana, sebuah tradisi untuk saling menghantarkan harta benda kepada kerabat, baik saat melakukan hajat bahagia seperti pernikahan ataupun saat ditimpa musibah seperti kematian. Hantaran ini bukanlah sekadar hantaran. Tidak jarang hantaran ini berupa kuda, kerbau, beras, kain adat yang harga per helainya mencapai ratusan ribu. Sekali lagi, peradaban selalu kalah dengan adat. Apalagi di tanah Lio ini. Tanah yang masih menjunjung tinggi adat-istiadatnya, tak peduli plus minus-nya. Nah, tak mungkin aku bisa mengubah adat yang mereka junjung tinggi ini tentunya, yang aku bisa hanyalah mengajari anak-anakku bermimpi. Urusan bagaimana mereka mewujudkan mimpi adalah urusan belakangan.
Setiap kali kami membaca teks di buku pelajaran, selalu kuceritakan apa yang ditulis buku tersebut. Pernah waktu itu ada teks tentang kereta api. Kutanyakan kepada mereka pernahkah mereka melihat kereta api? Beberapa mengaku pernah melihatnya di televisi, sebagian lainnya terdiam karena jangankan televisi, listrik saja tidak dapat mereka nikmati. Ku perintahkan murid-muridku mengamati lekat-lekat gambar kereta api yang ada di buku paket tersebut. Sekali lagi aku menjadi juru cerita. Kugombali anak-anakku bagaimana enaknya naik kereta api. Kuiming-imingi mereka agar mau mencoba naik kereta api. Ku katakan mereka harus kaya agar bisa naik kereta api. Agar kaya harus belajar yang rajin. Seandainya mereka tahu sebenarnya kereta-kereta di Jawa seharusnya masuk museum, mungkin mereka tidak akan terkagum-kagum saat mendengar gombalanku.
Selalu dan selalu. Kutekankan pada mereka, menjadi orang kampung tidak selalu berarti harus kampungan. Menjadi orang kampung tidak selalu harus menjadi petani. Asalkan mereka sungguh-sungguh mau berusaha, mereka bisa menjadi apa pun. Tak ingin lagi ku lihat pandangan-pandangan kosong anak-anakku terhadap dunia. Satu tahun di sini mungkin bukanlah waktu yang lama apalagi untuk mengajari anak-anak keluar dari cangkang mereka. Namun, aku selalu berharap mereka dapat memandang dunia lebih luas dari pandangan mereka sebelumnya.