Mereka adalah Berton dan
Karnus. Dua anakku di Sekolah Dasar Inpres Detubelo. Sebuah sekolah di tanah
Flores. Tatapan-tapan kosong mereka laksana tatapan kosong mereka terhadap
kehidupan. Bagi mereka, hidup sekadar makan dan meninggalkan hari sekarang. Apa
yang ada di hari depan tentu bukanlah urusan mereka. Biar Tuhan yang
menentukan, mungkin itu yang ada dibenak mereka.
Teringat pertama
kali aku masuk dan menginjakan kaki di sekolah ini. Suatu waktu aku terpaksa
mengajar kelas 3, 4, 5, dan 6 yang dikumpulkan dalam satu ruangan akibat hanya
ada dua guru yang datang pada awal masuk liburan semester. Butuh tenaga besar
dan suara yang lantang untuk mengatasi kelas yang tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya. Apalagi anak-anak Flores terkenal dengan suara “lantangnya”. Satu
keuntungan besar bagiku waktu itu, sebagai orang baru tentu aku tak perlu
susah-susah untuk mendapatkan perhatian mereka. Dalam hitungan menit,
kumanfaatkan keterkejutan mereka akan kedatanganku menjadi keseriusan untuk
mendengar. Awal pertemuan ini kugunakan hanya untuk bermain dan berkenalan dengan
mereka. Berkenalan dari hati ke hati. Cukup sulit bagiku untuk menghapal
nama-nama muridku yang semua tampak asing di telinga apalagi di lidah untuk
diucapkan. Maria Helena Owa, Jeje RAta, Marianus Dado. Nama-nama itu berulang
kali ku sebut dengan terbata. Saat anak-anakku menyadari bahwa guru barunya ini
susah sekali mencocokan wajah mereka dengan label nama mereka, salah seorang
siswa menyeletuk “Ibu, kami sudah hapal
nama Ibu, kami juga sudah menyebutkan nama kami berulang-ulang, sekarang coba
Ibu panggil nama kami satu persatu”. Mati saya! Pikir saya waktu itu.
Jangankan memanggil nama mereka semua satu per satu. Menyebutkan 3 nama yang
ada di kelas saja waktu itu saya salah-salah.
Nah, kembali pada
pandangan anak-anakku tentang kehidupan. Dalam perkenalan pertama itu, aku
menanyai mereka tentang cita-cita mereka. Alangkah aku dibuat terdiam ketika
seorang siswa bertanya, “Ibu, cita-cita itu apa?”. Dengan sederhana ku katakan
saja bahwa cita-cita sama halnya mau menjadi apa engkau dewasa kelak. Masih
dengan bingung, mereka menulis cita-cita mereka pada selembar kertas. Tulisan
mereka sangat sederhana dan lugu. Ada beberapa siswa menulis ingin menjadi
guru, tetapi banyak dari mereka menulis akan menjadi petani atau tukang ojek.
Ya,, dua profesi yang menjadi primadona di kampung tempatku tinggal.
Tulisan-tulisan
anak-anakku menjadi PR yang sangat besar untukku. Kususun kertas-kertas
cita-cita mereka di atas tegel kamar. Ku baca dan ku resapi satu per satu.
Kebanyakan dari mereka tidak punya cita-cita. Kebanyakan dari mereka tidak
punya mimpi. Mereka hanya mau menjadi seperti orang tua mereka. Mereka ibarat
katak dalam tempurung. Hal yang mereka lihat sebatas apa yang terjangkau mata.
Bagaimana mereka akan bercita-cita jika sebelum lulus sekolah mereka sudah
dipesan orang tua mereka untuk menjadi penerus pengurus kebun kakao dan kemiri
orang tua mereka. Mereka umumnya takut bermimpi. Bagi kebanyakan masyarakat di
sini, pendidikan itu mahal dan tidak penting. Buat apa sekolah tinggi, toh pada
akhirnya mereka belum tentu menjadi pegawai.
Keesokan harinya,
guru yang masuk masih bisa dihitung dengan jari. Sekali lagi, aku terpaksa
menggabung kelas 4, 5, dan 6 menjadi satu ruangan. Hari itu, aku akan membuka
mata mereka. Kelas hari itu ku beri nama Lilin Harapan. Mengapa demikian? Aku
ingin mereka mempunyai cita-cita yang tinggi. Mempunyai pengharapan akan
kehidupan yang lebih baik. Dan mengapa harus lilin? Lilin.. walaupun tidak
terang, benda ini mampu memberi cahaya pada kegelapan. Begitu pula
pengharapanku pada mereka. Di segala keterbatasan mereka, aku ingin mereka
menjadi penerang bagi lingkungan mereka.
Waktu itu,
kukenalkan mereka pada berbagai profesi. Guru, polisi, tentara, bidan, kepala
desa, camat, pilot, juragan kakao (red. kampungku kaya akan kakao), dan
berbagai profesi lain. Kuceritakan keadaan kota yang banyak toko serba ada dan
berbagai makanan enak. Kugambarkan bagaimana enaknya makan es krim. Tidak lupa
pula kujelaskan apa saja yang ada di Jawa. Saat mereka tertegun, semakin
semangat aku membual. Dengan memejamkan mata seolah menikmati es krim,
kugambarkan bagaimana enaknya menikmati jenis makanan ini. Lalu, satu per satu
pertanyaan muncul. Kalian mau tahu bagaimana enaknya menjilat es krim yang
bentuknya kaya Tugu Monas yang ada di Jakarta? Kamu mau tahu rasanya belanja tanpa
berpanas-panas? Kamu mau naik mobil mewah? Tidak bosankah kalian naik bis kayu
(red. Sejenis truk yang dijadikan angkutan penumpang)? Nah jawaban-jawaban
tersebut ku gunakan untuk menggiring mereka bermimpi. Mimpi untuk menjadi lebih
baik. Tidak sekadar hanya menjadi penerus orang tua mereka yang hanya jadi
petani atau tukang ojek.
Lagi, ku minta
mereka menulis mimpi mereka. Kali ini tulisan mereka beragam. Ada yang mau
menjadi guru, polisi, tentara, bahkan ada yang ingin menjadi Babo, artis lokal
yang sempat masuk pada penyisihan ajang kompetensi pencarian bakat Indonesia Idol. Kali ini aku tersenyum
puas. Anak-anakku sudah berani bermimpi. Semenjak menyalakan mimpi-mimpi
mereka, kali ini hingga kepulanganku nanti tugasku adalah membuat mimpi-mimpi
mereka tetap menyala. Membuat mereka mau mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
Sebenarnya,
masyarakat di sini bukanlah masyarakat miskin yang tidak bisa mengupayakan uang
untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Umumnya, mereka mempunyai
berhektar-hektar kebun dengan berbagai hasilnya seperti kemiri, kakao, kopra.
Akan tetapi, uang mereka habis untuk wurumana,
sebuah tradisi untuk saling menghantarkan harta benda kepada kerabat, baik
saat melakukan hajat bahagia seperti pernikahan ataupun saat ditimpa musibah
seperti kematian. Hantaran ini bukanlah sekadar hantaran. Tidak jarang hantaran
ini berupa kuda, kerbau, beras, kain adat yang harga per helainya mencapai
ratusan ribu. Sekali lagi, peradaban selalu kalah dengan adat. Apalagi di tanah
Lio ini. Tanah yang masih menjunjung tinggi adat-istiadatnya, tak peduli plus minus-nya. Nah, tak mungkin aku
bisa mengubah adat yang mereka junjung tinggi ini tentunya, yang aku bisa
hanyalah mengajari anak-anakku bermimpi. Urusan bagaimana mereka mewujudkan
mimpi adalah urusan belakangan.
Setiap kali kami
membaca teks di buku pelajaran, selalu kuceritakan apa yang ditulis buku
tersebut. Pernah waktu itu ada teks tentang kereta api. Kutanyakan kepada
mereka pernahkah mereka melihat kereta api? Beberapa mengaku pernah melihatnya
di televisi, sebagian lainnya terdiam karena jangankan televisi, listrik saja
tidak dapat mereka nikmati. Ku perintahkan murid-muridku mengamati lekat-lekat
gambar kereta api yang ada di buku paket tersebut. Sekali lagi aku menjadi juru
cerita. Kugombali anak-anakku bagaimana enaknya naik kereta api. Kuiming-imingi
mereka agar mau mencoba naik kereta api. Ku katakan mereka harus kaya agar bisa
naik kereta api. Agar kaya harus belajar yang rajin. Seandainya mereka tahu
sebenarnya kereta-kereta di Jawa seharusnya masuk museum, mungkin mereka tidak
akan terkagum-kagum saat mendengar gombalanku.
Selalu dan selalu.
Kutekankan pada mereka, menjadi orang kampung tidak selalu berarti harus
kampungan. Menjadi orang kampung tidak selalu harus menjadi petani. Asalkan
mereka sungguh-sungguh mau berusaha, mereka bisa menjadi apa pun. Tak ingin lagi
ku lihat pandangan-pandangan kosong anak-anakku terhadap dunia. Satu tahun di
sini mungkin bukanlah waktu yang lama apalagi untuk mengajari anak-anak keluar
dari cangkang mereka. Namun, aku selalu berharap mereka dapat memandang dunia
lebih luas dari pandangan mereka sebelumnya.







0 komentar:
Posting Komentar